Alt Text: Sosialisasi Saya Pelajar Anti Korupsi Jujur Mulai dari Sekarang agen SPAK Maluku Tengah Nunung Dwi Setyawati bersama Dharma Wanita Kementerian Agama Kabupaten Maluku Tengah
Kisah Inspiratif

Mendidik dengan Teladan

Aktif tergabung sebagai agen SPAK Maluku Tengah sejak 2016, Nunung Dwi Setyawati yang akrab dipanggil Nunung baru saja menutup rangkaian kegiatan penyuluhan SPAK bertajuk “Jujur Mulai dari Sekarang” pada 12 November 2021. Dilaksanakan di Masohi, Maluku Tengah, kegiatan ini dihadiri oleh 50 siswa dan 10 guru yang berasal dari 2 Madrasah Ibtidaiyah (MI) serta masing-masing 1 Sekolah Dasar (SD), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Bersama dengan teman-teman Dharma Wanita dari Kementerian Agama Kantor Wilayah Maluku Tengah, Nunung membawakan sesi sosialisasi yang dilanjutkan dengan bermain permainan SPAK.  Mengingat banyaknya alat permainan SPAK yang telah ia terima dari SPAK Indonesia seperti Semai, Majo Yunior dan Majo, Nunung berinisiatif untuk mengundang 3 level institusi pendidikan. Yang menjadi pilihannya adalah SD dan MI, MTs, dan MA. Sengaja mengundang lebih banyak peserta dari SD dan MI karena alat permainan Semai jumlahnya lebih banyak. Peserta dari MTs dan MA kemudian diperkenalkan dengan Majo Junior, sedangkan guru-guru diperkenalkan dengan Majo.  “Harapannya peserta yang hadir dapat menjadi agen-agen di sekolah masing-masing, makanya kami bekali juga sekolah-sekolah dengan dua alat peraga,” ungkap Nunung.  Rangkaian kegiatan setengah hari dimulai dengan perkenalan anti korupsi dan gerakan SPAK. Dengan bekal pengetahuan yang peserta dapatkan di sesi sosialisasi, agenda bermain permainan SPAK menjadi lebih mudah dipahami dan menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi banyak peserta, terutama dengan soal-soal pada kartu kasus yang aplikatif.  Nunung ingat betul bagaimana anak-anak peserta didik menyahuti dengan lantang ketika fasilitator memperkenalkan 9 nilai antikorupsi. Proses pembelajaran dimulai ketika diskusi terjadi dan membahas bagaimana perilaku sehari-hari rupanya kerap beririsan dengan perilaku koruptif. “Ada sekelompok siswa yang memandang membagikan jawaban tugas untuk temannya yang tidak mengerjakan tugas merupakan perilaku baik karena mereka menolong teman yang kesusahan. Jadi kadang mereka niatnya baik membantu, padahal salah. Jadi yang memberikan contekan salah, yang meminta contekan pun salah,” tutur Nunung.  Ia pun menemukan cerita serupa di kalangan guru-guru. Banyak cerita yang bermunculan tentang bagaimana orang tua memberikan hadiah kepada guru dengan niat menyambung tali silaturahmi, padahal hal tersebut justru mencederai integritas guru karena ada indikasi ke arah gratifikasi. Dalam kapasitasnya sebagai kepala MA, Nunung tidak memungkiri maraknya praktik tersebut di kalangan tenaga pendidik. “Saya infokan kepada teman-teman guru, kalau kalian izin pulang kampung, lalu membeli oleh-oleh untuk saya, gak akan saya berikan izin pulang kampung lagi, karena itu artinya mereka berusaha membeli integritas saya,” jelasnya sambil terkekeh. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Nunung mengundang sekolah-sekolah untuk berpartisipasi dalam proyek Sekolah Jujur. Perasaannya sedikit lebih plong, mengingat ini adalah salah satu amanah dari SPAK bagaimana bisa menyentuh lebih banyak orang dan berbagi mengenai nilai-nilai anti korupsi. Sambutan akan kegiatan ini pun sangat luar biasa. Dari kalangan sekolah banyak yang bertanya kapan bisa melaksanakan kegiatan seperti ini lagi. Pun dari Dharmawanita mengusulkan melaksanakan kegiatan serupa tapi ditujukan untuk ibu-ibu penyuluh karena target mereka langsung ke masyarakat mengingat penyuluh agama dari Kemenag biasa beraktivitas hingga ke Majelis-majelis Taklim. Nunung juga menceritakan ambisinya melalui kegiatan-kegiatan ini untuk menghadirkan lebih banyak agen-agen perubahan melalui jejaring SPAK.  Di akhir kegiatan, Nunung menyadari bagaimana kritisnya anak-anak jaman sekarang. “Mereka bisa mengakses informasi dari gawai yang mereka miliki, sehingga mereka berani bertanya kenapa aparat berlaku seperti ini, mengapa pemerintah bertindak seperti itu? Makanya kita tidak bisa memberikan pendidikan tanpa memberikan teladan, harus sinergis di dalam semua hal.” Semangat ini pula yang ia harapkan dapat menjadi napas pergerakan agen-agen SPAK. “Apa yang kita dapatkan perlu kita tularkan. Kita tidak bisa menyalahkan kalau kita gak memberikan penjelasan. Banyak yang belum paham konsep gratifikasi, mereka tidak sadar mereka sudah terlibat dalam suap menyuap. Lebih parah lagi kalau mereka melakukan perbuatan tersebut di depan anak-anak mereka. Mereka tidak menyadari bahwa guru sudah melakukan perbuatan yang salah, sehingga anak-anak akan merekam.”  Menutup rangkaian kegiatan, Nunung menyerukan ajakan untuk sama-sama belajar, menularkan ilmu yang sudah didapat agar lama kelamaan nilai antikorupsi menyebar. “Ketika kita tidak bisa menjadi teladan, akan berat. Jadi mulai dari diri sendiri.”
Ema Husain SPAK Indonesia Bawaslu SKPP Sekolah Kader Pengawas Partisipatif Sulawesi Selatan Membangun Karakter Berintegritas
Kisah Inspiratif

Membangun Demokrasi Melalui Nilai Integritas

Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Sejatinya, napas demokrasi terjalin melalui semangat partisipatif yang tulus dari seluruh lapisan masyarakat, sehingga proses pengambilan keputusan atas kebijakan publik yang dilakukan oleh wakil rakyat betul bertujuan untuk menyejahterakan rakyat. Oleh karenanya, memastikan nilai-nilai integritas tercerminkan pada setiap bagian demokrasi menjadi penting untuk direalisasikan. SPAK Indonesia diundang untuk mengisi sesi “Membangun Karakter yang Berintegritas” dalam Sekolah Kader Pengawas Partisipatif (SKPP) Provinsi Sulawesi Selatan oleh Bawaslu pada 20-24 Oktober 2021. Kegiatan ini merupakan program nasional, yang bertujuan memberikan pengetahuan bagi generasi muda serta pemilih pemula tentang pengawasan Pemilu dan Pilkada. Mewakili SPAK Indonesia adalah Ema Husain, agen SPAK Sulawesi Selatan yang telah bergabung dengan SPAK dari awal pergerakan dan kini aktif berkontribusi dalam penelitian tindakan korupsi yang SPAK selenggarakan.  Ema membagikan paparannya kepada 70 peserta yang akan menjadi Kader Pengawas Partisipatif di berbagai daerah di Sulawesi Selatan. SPAK Indonesia mengisi sesi di awal dengan tujuan membangun pondasi peserta dalam menjadi kader yang berintegritas dengan semangat volunteerism. Lingkup kerja para kader nantinya mencakup pengawasan, pencatatan, dan pelaporan selama periode kampanye dan Pemilu maupun Pilkada di daerahnya berlangsung dengan status sukarelawan Bawaslu. Hal ini sejalan dengan karakter pergerakan Agen SPAK yang melakukan berbagai inisiatif di komunitas masing-masing dengan tetap membawa semangat dan nilai-nilai antikorupsi melalui pendekatan ala SPAK Indonesia.  Membuka sesinya, Ema memulai dengan mengupas prinsip 9 nilai antikorupsi yang dikaitkan dengan budaya di Sulawesi Selatan. Menurutnya, perlu menghadirkan kedekatan nilai-nilai antikorupsi yang sebenarnya telah terrepresentasikan dalam nilai-nilai budaya di daerah. Contohnya, nilai kejujuran hadir dalam keseharian dalam istilah lempu yang mengacu pada perilaku yang lurus, sesuai dengan fakta yang ada atau bersikap jujur.  Peserta SKPP terdengar riuh ketika Ema melemparkan pertanyaan, “Siapa di sini yang kalau kena tilang masih membayar polisi? Atau menggunakan jalur orang dalam kalau ada keperluan mengurus administrasi desa?” Ada yang tersenyum malu, ada pula yang tertawa lepas memotret dirinya dalam situasi tersebut. Diskusi semakin seru ketika peserta kemudian mampu mengidentifikasi tantangan yang kerap muncul menjelang Pilkada dan Pemilu, mulai dari penyalahgunaan data administrasi pemilih hingga praktik money politic yang dilakukan oleh kader. “Apakah wajar bila kader partai yang mencalonkan diri memberikan sumbangan kepada sukarelawan SKPP? Menimbang indikasi adanya kepentingan politik di balik sumbangan tersebut, tentu menghadirkan kemungkinan yang menggeser makna sumbangan menjadi suap agar memilih kader dari partai tersebut,” ujar Ema. Penjelasan ini berusaha merekonstruksi framing balas budi yang sudah lama ternormalisasi atas pemberian sumbangan-sumbangan oleh kader partai.  Nilai integritas hadir sebagai bagian yang lekat dalam demokrasi. Ema mengungkapkan, tidak ada gunanya bicara demokrasi apabila tidak dapat menjaga integritas. Di sinilah nantinya para kader SPPK perlu menyatakan nilai-nilai integritas ketika memenuhi tanggungjawab dan komitmennya kepada bawaslu, tapi di saat yang bersamaan juga melakukan edukasi kepada masyarakat. Menutup diskusi, Ema mengamati bahwa peserta memiliki pemahaman tentang nilai-nilai integritas, sehingga jajak pendapat memberikan wadah untuk menjahit dan membentuk sinergitas ide-ide internalisasi nilai melalui perilaku keseharian yang lebih dekat dengan warga.  Ema menyambut baik antusiasme peserta SKPP bahkan setelah pelatihan selesai diselenggarakan. “Beberapa peserta ada yang menghubungi saya melalui pesan di WhatsApp, ada yang mengirim pesan lewat Facebook. Sebagian ada yang ingin berbincang lebih jauh, ada juga yang ingin berkolaborasi mengundang saya untuk membagikan paparan dalam kegiatan di komunitasnya.” Edukasi nilai-nilai anti korupsi menjadi sangat penting untuk dimulai melalui generasi muda. “Bayangkan, ternyata perilaku koruptif adalah hulu. Dari semua persoalan yang ada, munculnya dari sini. Ketika airnya turun, dia akan mencemari semua aspek kehidupan manusia,” ungkap Ema. Generasi muda dengan pemahaman dan internalisasi nilai-nilai anti korupsi lah yang nantinya akan menjadi penyaring perilaku koruptif dan menjembatani tumbuhnya perilaku berintegritas pada lapisan masyarakat yang lebih luas.
Membangun Karakter Guru Memperkuat Karakter Bangsa Program Organisasi Penggerak SPAK Indonesia
Berita Event

Membangun Karakter Guru, Memperkuat Karakter Bangsa

SPAK Indonesia baru saja menyelesaikan rangkaian kegiatan Workshop Program Organisasi Penggerak yang bertajuk “Membangun Karakter Guru, Memperkuat Karakter Bangsa” dengan dukungan dari Kemendikbudristek. Kegiatan yang diikuti oleh 5 sekolah di area Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan dan 5 sekolah di area Kota Makassar berlangsung selama 3 hari di setiap minggunya. Selain memperkenalkan materi seputar tindakan korupsi dan nilai-nilai antikorupsi, para kepala sekolah dan guru dari tiap sekolah juga berkesempatan untuk memainkan langsung games SPAK, serta berlatih menjadi fasilitator game SPAK atau “nyepak” bersama dengan agen-agen SPAK Jakarta dan Makassar. Melalui workshop ini diharapkan Kepala sekolah dan Guru dapat memahami bahwa ranah korupsi bukan hanya mengenai keuangan negara, melainkan juga bingkisan-bingkisan yang secara tidak sadar menyandera objektifitas dan profesionalitas individu manapun, termasuk guru. Agenda lanjutan dari workshop ini adalah para Kepala sekolah dan guru dapat lebih menghidupi nilai-nilai anti korupsi, sehingga dapat memperkuat peradaban bangsa di masa depan. Nantinya, peserta workshop akan menjadi fasilitator ketika “nyepak” di lingkungan kelas maupun di komunitasnya masing-masing sambil mengedukasi nilai-nilai antikorupsi.
Rana Dewi SPAK Indonesia Perkumpulan Lingkar Belajar untuk Perempuan Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia sosialisasi nilai antikorupsi
Kisah Inspiratif

Pendidikan Nilai-nilai Integritas Melampaui Batas Disabilitas

Pernahkah kamu membayangkan hidup dan menjalani keseharian tanpa salah satu atau lebih indra yang kamu miliki? Bagi kebanyakan orang, hal tersebut mungkin terasa begitu jauh dari pikiran, mungkin karena mereka terlahir dengan keenam indra secara lengkap, juga teman-teman dalam lingkup sosial terdekat. Begitu pula bagi Rana Dewi, salah satu agen SPAK yang berprofesi sebagai pengacara dan aktif berkegiatan di Perkumpulan Lingkar Belajar untuk Perempuan (LiBu Perempuan) di Palu, Sulawesi Tengah hingga ia berjumpa dan berinteraksi langsung dengan komunitas penyandang disabilitas kala memberikan sosialisasi nilai-nilai antikorupsi. Perjalan Dewi menjadi agen SPAK diawali dengan perjumpaan di tahun 2015. Kala itu, ia dan beberapa rekan komunitas lainnya tergabung dalam pelatihan SPAK di Pare-pare sebagai peserta. Momen tersebut menumbuhkan ketertarikan Dewi terhadap metode permainan SPAK yang menyuguhkan pembangunan pemahaman nilai-nilai antikorupsi melalui media yang mudah dimengerti seperti papan permainan. Menurutnya, ini akan mempermudah transfer ilmu pengetahuan kepada rekan-rekan yang ikut bermain.  Hal inilah yang kemudian menyulut semangat Dewi dan teman-teman komunitas untuk aktif mensosialisasikan nilai-nilai antikorupsi kepada mahasiswa, warga di kampung dan desa, kelompok perempuan, serta kelompok masyarakat lainnya. Bahkan aktivitas sosialisasi yang mereka bawakan sampai ke telinga Gubernur Sulawesi Tengah yang terpukau dengan gerakan dan pendekatan pendidikan nilai antikorupsi yang dihadirkan oleh SPAK. “Kok ada ya gerakan atikorupsi yang didominasi oleh perempuan-perempuan dari semua kalangan latar belakang dan berhasil menyentuh banyak lapisan masyarakat?” ujarnya. Nilai-nilai dan materi yang dibawakan oleh SPAK menjadi sentral dalam aktivitas LiBu Perempuan. Di Sekretariat LiBu Perempuan sendiri, permainan SPAK selalu disediakan di ruang tunggu, sehingga tamu yang datang pasti diperkenalkan dan diajak bermain permainan SPAK sebelum memulai aktivitas atau kegiatan bersama LiBu Perempuan. Begitu pula dialami oleh teman-teman penyandang disabilitas yang tergabung dalam Himpunan Wanita Disabilitas (HWDI) Sulteng ketika hadir dalam pertemuan mingguan yang diselenggarakan oleh LiBu Perempuan.  Dengan bantuan juru bahasa isyarat (JBI), Dewi memperkenalkan permainan SPAK kepada kurang lebih 20 rekan-rekan komunitas HWDI yang datang berkunjung waktu itu. Rupanya, muncul beberapa kendala dalam mengkomunikasikan esensi permainan kepada teman-teman penyandang disabilitas. Kepada teman-teman disabilitas netra, Dewi perlu mencari padanan kata yang bisa dengan tepat menjelaskan situasi yang diangkat dalam permainan. Begitu pula bagi teman-teman tuli, padanan kata dan gambar pendukung perlu dipersiapkan untuk memaksimalkan penyampaian nilai dalam permainan, serta menjawab pertanyaan teman-teman disabilitas atas topik yang sedang dibahas.  “Waktu itu kami sedang membahas poin tentang lelang. Ketika mau memperkenalkan konteks efek jera pada perusahaan pemenang lelang proyek rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana yang melakukan tindakan korupsi, rupanya teman-teman penyandang disabilitas tidak kenal dengan kata ‘jera’. Jadilah saya dan JBI berpikir keras, apa ya padanan kata yang tepat untuk menjelaskan efek jera? Oh, ‘tobat’ sepertinya paling tepat!” cerita Dewi sambil terkekeh mengingat momen tersebut. Dewi begitu kagum dengan semangat belajar teman-teman penyandang disabilitas. Dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, mereka tetap dengan rendah hati dan penuh semangat mau mempelajari hal-hal baru, termasuk nilai-nilai antikorupsi melalui permainan SPAK. Salah satu dari mereka sempat berujar, “Kok baru sekarang ya kita bisa berkenalan dengan permainan seperti ini?” Perkenalan dengan nilai-nilai antikorupsi melalui permainan SPAK tidak hanya membuka pikiran teman-teman HWDI, namun juga Dewi dan rekan-rekan komunitas LiBu Perempuan. Teman-teman HWDI kini mampu mengidentifikasi perilaku koruptif yang muncul, contohnya dalam minimnya pengadaan akses pendidikan bagi penyandang disabilitas oleh pemerintah setempat walaupun sebenernya anggaran sudah ada.  Di sisi lain, Dewi menyaksikan dan merasakan secara langsung ketimpangan yang mereka alami ketika berusaha menjelaskan nilai-nilai dalam permainan SPAK. Narasi dan pesan-pesan yang dikemas melalui media yang menargetkan masyarakat umum seringkali kurang mengedapankan inklusivitas bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas. Makanya, pada aktivitas selanjutnya bersama HWDI, Dewi berencana untuk mempersiapkan narasi, penjelasan studi kasus yang relevan dengan situasi peserta, dan alat pendukung seperti gambar atau media lain yang dapat membantu mempermudah teman-teman penyandang disabilitas untuk bermain permainan SPAK. Menurut Dewi, penting bagi kita untuk mampu membedah dan mendiskusikan nilai-nilai dalam permainan SPAK ke dalam kasus-kasus yang dekat dengan keseharian agar teman-teman di komunitas bisa dengan mudah menyampaikannya kepada khalayak yang lebih luas. Menutup cerita pengalamannya, Dewi berpesan, “saya percaya pendidikan nilai-nilai antikorupsi ini merupakan sesuatu yang harus terus menerus dilakukan. Jangan kita berputus asa, berhenti bergerak ketika dihadapkan dengan tantangan atau kondisi yang tidak sesuai dengan harapan.”
Pera Sagala SPAK Sumut Sosialisasi Nilai Antikorupsi Latihan Khusus Kohati
Kisah Inspiratif

Pendidikan Antikorupsi: Pondasi Pembangunan Karakter Generasi Muda Berintegritas

Layaknya mendirikan sebuah bangunan yang kokoh, pembangunan karakter generasi muda yang berintegritas membutuhkan pondasi yang kuat dan solid. Hal inilah yang kemudian mendorong Peranita Sagala, seorang arsitek dan dosen arsitektur di Universitas Pembangunan Panca Budi untuk aktif berkontribusi dalam membangun karakter generasi muda di daerahnya. Lama berkecimpung di kegiatan literasi, anti korupsi, dan perempuan, Pera memutuskan untuk bergabung dalam gerakan SPAK sebagai agen perubahan sejak mengikuti Training of Trainers SPAK di Banda Aceh pada 2016. Kini, ia dan agen-agen SPAK Sumatera Utara aktif melakukan kegiatan penyuluhan ke sekolah, masyarakat umum, bahkan ke tingkat desa. Belum lama ini, Pera yang juga pengurus aktif Forum Alumni Kohati diundang untuk mengisi Pelatihan Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Kohati.  Dalam kegiatan Latihan Khusus Kohati (LKK) yang mengangkat tema “Isu Mutakhir Kohati, Peran Kohati terhadap pemberantasan Korupsi di Indonesia”, Pera hadir untuk membagikan pengalaman dan pemahaman mengenai nilai-nilai antikorupsi. Peserta yang berpartisipasi adalah adik-adik pengurus Kohati cabang persiapan Sibolga-Tapanuli Tengah dari berbagai daerah seperti Sibolga Tapteng, Medan, Padang Lawas, Jabung Barat, Labuhan Batu, Padang Sidimpuan, dan Madina. Menggunakan media sticky notes, Pera mengundang adik-adik Kohati untuk merefleksikan diri, apakah pernah melakukan tindakan koruptif, atau pernah mengamati terjadinya tindakan koruptif di lingkungan komunitas. Pada salah satu lembar sticky notes yang telah dikumpulkan, seorang peserta pelatihan menceritakan tindakan korupsi yang menurutnya kerap terjadi di HMI yakni mengambil lima ribu rupiah dari kegiatan penggalangan dana untuk kebutuhan minum panitia.  Rupanya, cerita ini mengundang pandangan yang berbeda dari beberapa peserta, karena menganggap tindakan tersebut sesuatu yang wajar dan telah sering dilakukan oleh senior di beberapa komunitas cabang. Bahkan menurut mereka mengambil bagian hingga 20 persen dari hasil penggalangan dana pun adalah hal yang lumrah sebagai apresiasi bagi panitia penyelenggara kegiatan. Hal ini kemudian mengundang sanggahan dari beberapa peserta lain yang selama menjalankan kegiatan di komunitas cabang berbeda tidak pernah melakukan praktik demikian. Menurut mereka, hal tersebut merupakan bentuk korupsi, tidak peduli sekecil apapun jumlah yang diambil.  Keseruan dalam diskusi tersebut Pera coba bawa pula ketika memperkenalkan permainan SPAK. Melalui permainan Majo Yunior, peserta pelatihan diperkenalkan dengan nilai-nilai antikorupsi melalui papan permainan yang menyuguhkan cerita kasus-kasus yang sangat dekat dengan keseharian. Pengalaman bermain Majo Yunior bagi banyak peserta menjadi titik balik akan kesalahpahaman mengenai pembenaran kebiasaan mengambil persenan dari penggalangan dana, padahal jelas-jelas merupakan bentuk tindakan korupsi.  Antusiasme peserta pelatihan ketika berkenalan dengan nilai-nilai antikorupsi melalui permainan SPAK memberikan sebentuk kebahagiaan tersendiri bagi Pera. Menurutnya, walaupun wacana antikorupsi masih sangat baru bagi para peserta pelatihan, ia berharap mereka terus mengingat pembelajaran dari pertemuan dengannya tiap kali bermain Majo Yunior. Lanjut Pera, “saya melihat korupsi sudah sangat mendarah daging bagi mereka sehingga beberapa daerah tidak melihat lagi perilaku tersebut sebagai suatu kesalahan. Walaupun saat LKK mereka sadar, ketika kembali ke cabangnya, kemungkinan terkontaminasi kembali sangat besar.” Di sisi lain, masih adanya peserta yang menunjukkan pengalaman integritas di cabangnya meninggalkan secercah harapan bagi Pera. Hal ini menjadi contoh nyata bagi teman-teman peserta pelatihan lainnya bahwa tidak selamanya kegiatan di HMI harus mengambil sebagian uang penggalangan dana untuk operasional panitia. “Peserta pelatihan kali ini adalah calon-calon ketua umum di Kohati. Saya berharap beberapa dari mereka ketika menjabat menjadikan antikorupsi sebagai bagian perkaderan yang harus dilalui dalam pelatihan HMI dan giat melakukan pendidikan antikorupsi di kepengurusan.”
Devina SPAK Jakarta Sosialisasi Game Semai Majo Tangerang Read Aloud
Kisah Inspiratif

Dongeng dan Permainan SPAK Bantu Perkenalkan Nilai-nilai Integritas

Menggugah imajinasi melalui rangkaian kata dalam cerita, Devina Febrianti yang akrab disapa Vina kerap menghabiskan waktu senggangnya sebagai pendongeng di salah satu taman baca yang ia kelola. Lulusan S1 jurusan Hubungan Internasional Universitas Islam Nasional (UIN) Jakarta ini percaya bahwa mendongeng bisa menjadi media kreatif dalam menanamkan nilai-nilai antikorupsi, terutama bagi anak-anak. Tak disangka, perjumpaan Vina dengan SPAK Indonesia memperkenalkannya pada media kreatif lainnya yakni games SPAK. Perjumpaan pertama Vina dengan SPAK Indonesia terjadi pada tahun 2016 silam ketika ia bertugas sebagai bagian dari panitia kegiatan International Business Integrity Conference (IBIC) yang diadakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kala itu, Vina sempat mengunjungi salah satu booth dan berjumpa dengan salah seorang Agen SPAK yang mengajaknya memainkan papan permainan SEMAI (Sembilan Nilai Anti Korupsi) yang dikembangkan oleh gerakan SPAK.  Momen itulah yang menandai awal perjalanan Vina sebagai agen SPAK.  Hingga 2021, Vina mulai aktif bergerak bersama agen-agen SPAK Jakarta. Meskipun situasi pandemi membatasi mobilitas publik, hal itu tidak menyurutkan semangat Vina untuk terlibat aktif mensosialisasikan nilai-nilai antikorupsi. Salah satu kampanye yang Vina aktif garap pada masa pandemi adalah kampanye membaca nyaring bersama komunitas baca Tangerang Read Aloud. Tekadnya sudah bulat untuk melakukan sosialisasi nilai-nilai antikorupsi beriringan dengan kampanye yang ia lakukan. Devina kemudian mewujudkan sebuah inisiatif yakni sebelum sosialisasi dan bermain Semai, terlebih dahulu ia bercerita dengan buku yang mengangkat tema 9 nilai integritas, salah satunya menyentuh tema tanggung jawab. Antusiasme Vina dalam mengintegrasikan pengenalan nilai-nilai antikorupsi melalui permainan SPAK dalam pelatihan kepada pengurus taman baca di beberapa lokasi disambut baik. Banyak di antara rekan pengurus yang tidak menyangka bahwa substansi pendidikan nilai antikorupsi yang biasanya dijumpai di pendidikan formal dapat disulap ke dalam bentuk permainan yang menyenangkan.  Seorang pengelola Madrassah yang Vina ajak untuk ikut pelatihan bermain Semai bahkan langsung memperkenalkan permainan tersebut kepada anak-anak didiknya. Beliau bercerita bahwa ada diskusi panjang saat seorang anak bertanya, “Kak, aku suka terbalik membedakan antara disiplin sama tanggung jawab karena dari tadi aku jawab salah,” yang kemudian menimbulkan diskusi kecil tetapi tetap mengasyikkan. Permainan ini memperkenalkan konsep perilaku koruptif dari perilaku sehari-hari sehingga terasa begitu dekat, sehingga anak-anak didik yang sudah pernah bermain Semai kini bisa mengidentifikasi bahwa perilaku mencontek maupun terlambat masuk kelas bertentangan dengan nilai kejujuran dan tanggung jawab. Beliau juga bercerita bahwa bukan anak-anak didiknya saja yang dapat pelajaran baru tetapi pengelolanya juga. “Beruntung sekali saya dipercaya bisa menggunakan board game ini” ucap salah satu pengajar.  Bagi Vina, perjalanan 5 tahun menjadi agen SPAK merupakan hal yang sangat membahagiakan. Banyak kejadian seru saat bisa berdialog dengan banyak orang bahkan ketika ada yang merasakan manfaat setelah bermain menyentuh hati dan memunculkan rasa haru. Secara pribadi, ia merasa beruntung bisa dipertemukan dengan SPAK karena dengan aktif di berbagi komunitas menjadikannya lebih bisa mengontrol diri terlebih saat dihadapkan oleh situasi yang tidak sesuai dengan hati nurani. “Aku juga menjadi lebih percaya diri karena hal baik yang kita lakukan akan berdampak untuk sekitar,” tuturnya. “Semoga semakin banyak anak muda yang terinspirasi dan tergerak untuk giat melakukan aktivitas antikorupsi karena gerakan hanya perlu dimulai dari diri sendiri dan terus berperilaku baik untuk masyarakat,” pesan Vina. Lanjutnya, ia percaya bahwa langkah yang besar selalu dimulai dengan langkah kecil, lakukan dengan hati maka gerakan ini akan terus bisa aktif. “Gerakan perubahan yang tak bisa dilakukan sendirian, lakukan bersama serta sinergi dengan siapa saja dan dampaknya untuk kita semua,” pungkas Vina.
Kisah Inspiratif

Aipda Andi Sri Ulva – Agen SPAK Polwan Panakkukang

Pelataran sebuah hotel di kota Sorong rasanya begitu sempit untuk memuaskan keinginan saya berlari dan terus berlari menghilangkan berbagai bayangan apa yang sudah saya kerjakan bertahun-tahun hingga hari ini. Malam itu seharusnya saya tidur nyenyak di kamar hotel, menikmati empuknya kasur sambil menonton televisi. Tapi nyatanya saya tidak bisa sesantai itu, saya merasa terhimpit rasa bersalah. “Saya bukan polisi yang mengayomi masyarakat, saya polisi yang minta uang dari rakyat. Padahal mereka mungkin lebih susah hidupnya dari saya.” Saya sudah 5 kali  berlari mengelilingi pelataran hotel, untuk membuang jauh rasa bersalah itu. Penuh peluh, saya menelpon ibu saya di Makassar. “Bu, tolong kumpulkan motor, mobil dan beberapa perhiasan. Tolong semua dijual dan nanti uangnya untuk disumbangkan ke rumah yatim,” kata saya yang disambut dengan berondongan pertanyaan dari ibu. “Sudah bu, nanti saya jelaskan..jual semua ya besok.” Saya harus menjadi Ulva yang baru, polisi yang jujur, polisi yang benar-benar mengayomi masyarakat. Kalau ada yang harus berubah, itu adalah diri saya sendiri Saya, polisi wanita berpangkat …….. yang bertugas di Polsek Panakkukang, Makassar. Saya diperintahkan untuk mengikuti pelatihan “Saya, Perempuan Anti Korupsi” di Sorong, Papua Barat. Awalnya, saya merasa ini akan menjadi pelatihan yang biasa saja. Hari pertama, saya mulai berkenalan dengan peserta yang lain, dari berbagai latar belakang. Ada guru, aktivis LSM, pegawai negeri, dosen dan wartawan. Hari kedua, pemberian materi tentang apa itu korupsi dan apakah kita selama ini hanya menjadi korban atau sekaligus pelaku korupsi. Materi itu begitu membuat saya terpojok. Bayangkan saja, beberapa hal yang masuk dalam kategori korupsi sudah pernah saya lakukan! Saya menerima “amplop” dari masyarakat yang mendapat pelayanan dari unit kerja saya. Tidak saja menerima, tapi saya berbagi uang haram itu dengan kolega saya yang lain.  “Polisi macam apa saya ini?” saya bertanya pada diri saya sendiri. Bayangan almarhum ayah saya berkelebat, “Ulva, kalau memang mau jadi polisi, jadilah polisi yang baik, yang benar-benar membela masyarakat.”  Ingatan saya kembali ke beberapa waktu silam, saat saya ngotot ingin menjadi polisi sementara ayah saya melarang. Ayah waktu itu beralasan, polisi itu banyak sekali peluangnya untuk korupsi. Semua kenangan akan ayah saya, perjalanan karir saya sebagai polisi dan bagaimana anak saya menjalani kehidupannya sekarang, terus berputar di kepala saya. “Saya harus menjadi Ulva yang baru, polisi yang jujur, polisi yang benar-benar mengayomi masyarakat. Kalau ada yang harus berubah, itu adalah diri saya sendiri,” begitu kesimpulan saya malam itu. Malam itu, saya mengambil air wudhu dan merasa sholat yang saya lakukan adalah sholat terkhusyu untuk memohon ampun atas dosa-dosa saya. Kembali ke Makassar, yang saya lakukan adalah memastikan uang hasil  penjualan barang-barang sudah disumbangkan ke rumah Yatim Piatu dan kemudian menghadap atasan saya saat itu, Wahyudi Rahman. Saya menceritakan kembali apa yang saya dapat dari pelatihan tiga hari itu dan saya mohon izin kepada atasan saya untuk berbagi mengenai ilmu baru ini kepada teman-teman di Polsek Panakkukang. Saya ajak teman-teman saya main games yang memang dibagikan kepada peserta ToT. Kemudian meja layanan kami buat tanpa laci. Ini memperkuat ide bahwa kami tidak lagi dibayar untuk memberi layanan pada masyarakat. Beragam reaksi muncul, tetapi secara umum saya mengamati mereka senang dengan cara bermain ini. Mereka yang sebelumnya tidak mengetahui bahwa memberikan bingkisan kepada guru di sekolah adalah bibit perilaku koruptif, sekarang mulai paham dan mencari cara agar tidak melakukannya lagi. Saya mengajak polwan lain di kantor saya untuk mulai berubah, awalnya dengan memasang brosur-brosur dan logo SPAK di meja kerja kami. Rupanya ini menarik masyarakat yang datang ke kantor kami. “Semua layanan GRATIS dan tidak dipungut biaya” tulisan itu kini terpampang di Polsek Panakkukang. Dukungan atasan dan rekan-rekan saya memperkuat keinginan untuk menjadikan kantor kami sebagai pelopor polisi Sombere (Polisi ramah, dalam bahasa Makassar). Kemudian muncul ide untuk merombak ruang layanan masyarakat menjadi transparan. Kami mulai dengan desain ruangan yang menjadi satu dan tanpa sekat. Kemudian meja layanan kami buat tanpa laci. Ini memperkuat ide bahwa kami tidak lagi dibayar untuk memberi layanan pada masyarakat. Meja berlaci dulu diasosiasikan dengan tempat menyimpan uang pungutan liar. Tak cukup dengan itu, diwaktu tertentu seperti selesai apel, kami bermain dengan games SPAK dan mengenalkan kepada teman yang lain. Saya ingin anak saya kelak menikmati Indonesia yang benar-benar bebas dari korupsi. Saya sendiri bertekad, karena saya sekarang sudah menjadi agen SPAK dan sudah mengetahui tentang korupsi dan bahanyanya, saya akan menjadi orang yang jujur dan profesional menjalankan tugas saya. Saya ingin anak saya kelak menikmati Indonesia yang benar-benar bebas dari korupsi. Tentu ini bukan tanpa tantangan, saya pernah dicap sok suci, merasa sudah kaya dan tidak perlu uang lagi sehingga tidak mau menerima pungli. Tetapi sekali lagi, karena saya sudah berniat untuk berubah, semua saya hadapi dengan tenang. Saya tau rejeki paling banyak diberikan Allah SWT, saya berubah juga karena jalanNya. Kalau tidak, tentu saya tidak dibukakan mata saat ini, disaat institusi polisi juga tengah berbenah untuk memantapkan profesionalitas seluruh anggotanya.
Berita

Seratus Agen Spak Kemenag Siap Dukung Pencegahan Korupsi

Gerakan SPAK mendapat tambahan kekuatan baru dari Kementerian Agama melalui pelatihan pada 100 istri karyawan eselon 1 untuk menjadi Agen SPAK pada tanggal 8-10 Maret 2018. Dengan menjadi Agen SPAK diharapkan para istri dari karyawan eselon 1 yang tersebar di berbagai provinsi itu dapat mulai menanamkan pendidikan antikorupsi di dalam keluarganya, lingkungan Kementerian Agama serta masyarakat sekitar.  Selama 3 hari pelatihan tersebut, mereka diberikan penjelasan tentang bentuk-bentuk korupsi dalam keseharian dan bagaimana cara menghindarkannya. Selain itu, mereka juga diajarkan menggunakan alat-alat bantu SPAK untuk membagikan pengetahuan yang mereka dapat ke keluarga dan masyarakat. Yang menarik dari pelatihan Agen SPAK adalah saat para peserta merasa terbuka matanya tentang banyak perilaku koruptif yang selama ini tidak mereka sadari. Masalah gratifikasi merupakan pertanyaan paling banyak diajukan oleh peserta, seperti memberi atau menerima hadiah sebagai seorang istri pegawai negeri. Pelatihan Agen dari Kementerian Agama ini sepenuhnya dibiayai oleh APBN. Hal ini merupakah langkah maju bagi gerakan SPAK, sekaligus membuktikan bahwa gerakan ini telah diakui mampu mendorong adanya perubahan dan merupakan langkah pencegahan korupsi yang dapat dilakukan oleh siapa saja.  Hanya selang beberapa hari setelah pelatihan, para agen Kementerian Agama ini langsung bergerak di kelopok dan lingkungan masing-masing. Ada yang masuk ke sekolah-sekolah, ke para ASN di Kanwil atau kelompok pengajian. Melihat semangat para perempuan ini sungguh memberi harapan bahwa semakin perubahan individu akan menimbulkan gelombang perubahan yang lebih besar dalam pencegahan korupsi.